Catatan Akhir Tahun 2021: 18 di 2021
- Dec 18, 2021
- 2 min read
What's special about turning 18?
Turning 18 is a big deal for some people, not just from the emotional perspective, but legally too.
Kata orang, delapan belas itu magic birthday. Delapan belas jadi milestone kedewasaan bagi sebagian orang. Gimana ngga, di usia kurang lebih 18 tahun kita bakal ninggalin masa sekolah menengah atas. Kita bakal mulai dihadapi dengan berbagai pilihan keputusan yang bebannya dirasa lebih berat dari sebelumnya.
Ada yang milih buat melanjutkan pendidikan, ada yang milih buat mulai niti karier di usia muda, ada juga yang milih buat bantu orang tua. Lagi-lagi aku bilang, bagi sebagian orang.. bagi sebagian orang itu pilihan yang ga mudah.
Yet we still have to choose.
-- because we know, the future depends on our decisions today.
Tapi, delapan belas di 2021 terasa lebih berat, ya?
Aku pernah baca quote dari instagram @alyaanz yang isinya seperti ini:
"Ruang gerak yang terbatas, membuat mimpi rasanya terlalu jauh di atas"
Karena aku rasa ga ada yang bakal nanya ke diriku, so let me ask myself this: How's your 18 in 2021, Nien?
Aku.. walaupun belum semua, tapi tulisan di atas adalah satu per seribu dari isi hati. Seribu bagian lagi.. rumit buat diterjemahin.
Iya, aku termasuk dari sebagian orang yang menjadikan 18 sebagai milestone kedewasaanku.
Walaupun aku tau, dewasa bukan perihal angka. But this feeling, that I realised I've grown up.
Sejujurnya, ga ada sudden change yang aku rasain di hari di mana aku beranjak 18.
I spent my 18th birthday on a special-normal basis. Ngabisin waktu seharian bareng keluarga inti, dapat ucapan dan kasih yang lebih dari hari-hari biasanya dari orang-orang terdekat. A simple celebration, yet I was so happy. Walaupun ulang tahun sebelumnya kurang lebih dilalui dengan cara yang sama, 조금 다른 느낌 dalam diri.
Tapi, perubahan terasa seiring berjalannya waktu.
Confusion..
Inquietude..
Apa yang dibingungin? Apa yang dikhawatirin?
-- Pendidikan, masa depan, jalan.
Sedikit lebih egois dengan waktu dan ruang yang dipunya. Sering memikirkan siapa dan bagaimana diri ini. Which then all these feelings lead to cognition, discernment, grateful.
Aku yang sekarang, walau sama saja masih di umur 18, namun lebih sedikit paham, berterima kasih. Terima kasih, udah ga nyerah. Terima kasih, buat keadaan sekarang dari keputusan yang udah pernah diambil. Meski perasaan-perasaan khawatir masih ada, ga apa. Normal, kan bagi kita, dream chasers?
I'm looking forward to getting more of what I've dreamed of in a bright future of mine.
-- Big awkward smile
Comments