Ada yang Belum Selesai di 2023
- Hanina Humaira
- Jan 1, 2024
- 2 min read
00:00 AM
"Alhamdulillah" - seingatku, itu adalah hal pertama yang aku ucap. New year's eve udah selesai, begitu juga hari-hari yang aku jalani di 2023. "Bismillah" - bagiku, sebuah permulaan dan afirmasi. Hari-hariku selanjutnya, akan aku bawa Tuhan dalam penghabisannya di sisi. Maka, harapan pertamaku adalah... sudilah Engkau, ya Tuhan, untuk terus mengiringi.
00:01 AM
Di menit-menit selanjutnya, aku buka laman instagram-ku. Beberapa unggahan yang nampilin bahagianya orang-orang di detik-detik berakhirnya tahun, menuhin beranda. Tawa, kebersamaan, memori, kilas balik, harapan, resolusi (seru, ya?). Tapi, ngga sedikit juga aku lihat air mata, sesal, kesal, lapangnya hati, penghormatan pada diri.
Satu tahun itu lama juga, ya.
Di tahun 2023 aku benar-benar bertemu dengan berbagai versi diriku. Aku lebih mengenalnya, meski harus melalui patah, rintih, dan marah. Di tahun ini juga, aku belajar, apa kata filsuf Emmanuel Levinas itu benar adanya. Ngga peduli seberapa lama kamu kenal seseorang, bakal ada sesuatu yang ngga dikenal tentang dirinya. When i look at someone's face, i met with both known and unknown. "I see you, but i do not know you". And, in this year too, i saw myself as a stranger. Think of it again, i always wanted to have a knowledge of a stranger i attracted to. Sampai akhirnya, we become close, comfortable, and feel safe around each other. Hal yang sama (ingin) aku terapin pada diriku yang asing itu.
Ya, pada akhirnya aku ngevaluasi apa yang terjadi pada diriku di satu tahun penuh.
03:(aku ngga merhatiin menit keberapa) AM
3 jam lamanya, sampai sebelum akhirnya aku tertidur. Benang merah. Aku dapat itu. Malam tahun baru kemarin aku habiskan dengan diriku sendiri. Kedengeran menyedihkan, tapi bagiku itu ketenangan. Ngga bisa dipungkiri, aku juga pengen ada di luar dan merayakan. Tapi, ada satu rasa yang ngebuat aku akhirnya mutusin buat menyendiri. Rasa bersalah.
Ada yang belum aku selesain dari tahun 2023. Kaya-- kalau main keluar, aku merugi. Entah, aku takut. Paham ngga ya maksudku? Like -- my war isn't over and it doesn't feel right for me to leave things i actually have to do. Even if i was out there having fun, my mind would absent. Sometimes, when i'm happy, i'm afraid i'll be in pain again. Dan, mungkin itu yang ngebuat aku akhirnya mutusin buat berdiam di kamar. (Ini cuma ceritaku, kalian jangan, ya. Just live your life).
No, i didn't just do nothing fun in my room. In fact, i engage in activities that bring a sense of intimacy and connection with myself. Meski rasa takut terus meliputi, at least i knew i was doing something that caused less worry for myself.
(Jujurly, akhir taun baru kalian asik semua! I hope the new year brings warmth and contentment for us. Both us with grand and simple celebration *wink and sincere smile*)
Comments